selamat datang di blog "rian aditya putra".. blog ini saya buat untuk berbagi informasi dan sekumpulan tugas softskill, jika ada kesalahan kata atau ada kata-kata yang menyinggung para pembaca, saya selaku admin meminta maaf.. terima kasih..
Jumat, 24 Oktober 2014

BAB I METODE PENELITIAN

0 komentar
TUGAS SOFTSKILL
(METODE PENELITIAN)


Disusun Oleh:

Nama/NPM
: Rian Aditya Putra/36412252
Kelas
Dosen
: 3ID08
: Ina Siti Hasanah

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
BEKASI
2014



BAB I
PENDAHULUAN


1.1     Latar Belakang
          Setiap manusia pasti tidak terlepas dari interaksi antar manusia maupun dengan lingkungannya, dimana dalam melakukan interaksi tersebut bertujuan untuk mendapatkan segala jenis informasi. Interaksi antar sesama manusia adalah hal yang biasa dan mudah untuk dilakukan. Hal ini berbeda jika manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan manusia meliputi rumah, sekolah, kampus, kantor, jalan raya, dan lain-lain. Manusia tidak dapat secara langsung berinteraksi dengan lingkungannya, karena lingkungan tidak dapat menyampaikan informasi yang ada, sehingga dapat menyebabkan kebingungan. Sebab dari permasalahan itu dibutuhkanlah alat bantu yang dapat digunakan manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya yaitu display.
    Display yang telah beredar terkadang memiliki ketidakseimbangan dalam menyampaikan informasi, yaitu berupa faktor kesan dan fungsional, sehingga akan menyebabkan kesalahan dalam memahami display tersebut, keterlambatan dalam menginterpretasikan data mengakibatkan berbagai resiko dan kecelakaan kerja yang akan terjadi. Akibat permasalahan tersebut, maka untuk meminimalisirnya dilakukan perancangan alat peraga yang sesuai dengan prinsip dan disiplin ilmu ergonomi. Display adalah alat peraga yang digunakan untuk media penyampaian informasi dari lingkungan kepada manusia. Display yang baik adalah display yang dapat dimengerti dan dipahami oleh manusia sebagai penerima informasi melalui panca indera (Sutalaksana, 1979).
        Penerapan display dalam penelitian ini adalah perancangan dan pembuatan acrylic display untuk memerintahkan agar operator selalu menggunakan ear-plug pada area yang telah ditentukan. Papan display ini terdapat beberapa kesalahan sehingga mengakibatkan operator tidak tertarik membacanya. Kesalahan tersebut terdapat pada kombinasi warna yang tidak mencolok sehingga operator tidak tertarik untuk membancanya. Dimensi huruf dan jarak antar kata yang tidak sesuai dengan prinsip dan penerapan ilmu ergonomi. Display seharusnya sesuai dengan prinsip dan penerapan ilmu ergonomi sehingga dapat menyampaikan informasi secara jelas dan tepat. Harapannya operator dapat mengetahui acrylic display tersebut bahwa pada area tersebut mewajibkan operator untuk menggunakan ear-plug.

1.2       Perumusan Masalah
         Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang acrylic display yang baik dan mudah dimengerti oleh manusia sehingga dapat memperoleh informasi yang jelas dari display tersebut. Display yang dimaksud adalah berbentuk papan peringatan.

1.3       Pembatasan Penelitian
            Pembuatan penelitian ini memiliki batasan-batasan masalah agar penulisan tidak menyimpang dari persoalan yang ada. Berikut ini batasan masalah dari penelitian :
1.      Pengambilan data dilakukan di PT. Krama Yudha Ratu Motor Jln. Raya Bekasi Km. 21-22 Pulo Gadung, Jakarta Timur.
2.       Display yang dibuat hanya berupa acrylic display dan sebanyak 1 display.
3.     Ukuran acrylic display yang dirancang hanya berukuran sedang dengan bentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 914 mm dan lebar 314 mm.

1.4       Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman materi yang akan dibahas didalamnya. Berikut merupakan tujuan penelitian dalam merancang ulang sebuah papan display.
1.  Mengetahui tipe-tipe dari display yang dibuat, yaitu display kualitatif, display kuantitatif, display representatif.
2. Mengetahui prinsip-prinsip dari display yang dibuat, yaitu proximity, similarity, symetry, continuity.
3.  Mengetahui ukuran huruf dan warna huruf yang digunakan pada pembuatan display, yaitu tinggi huruf kecil, lebar huruf besar, lebar huruf kecil, tebal huruf besar, tebal hurf kecil, jarak antara dua huruf, jarak antara dua kata.


Read more...
Selasa, 01 Juli 2014

DISPLAY (Alat Peraga)

0 komentar
 2.1       Pengertian Display
Display  merupakan bagian dari lingkungan yang perlu memberi informasi kepada pekerja agar tugas-tugasnya menjadi lancar. Arti informasi disini cukup luas, menyangkut semua rangsangan yang diterima oleh indera manusia baik langsung maupun tidak langsung. Display berfungsi sebagai suatu “sistem komunikasi yang menghubungkan antara fasilitas kerja maupun mesin kepada manusia (Nurmianto, 1991).
Contoh dari display diantaranya adalah jarum penunjuk speedometer, keadaan jalan raya memberikan informasi langsung ke mata, peta yang menggambarkan keadaan suatu kota. Jalan raya merupakan contoh dari display langsung, karena kondisi lingkungan jalan bisa langsung diterima oleh pengemudi. Jarum penunjuk spedometer merupakan contoh display tak langsung karena kecepatan kendaraan diketahui secara tak langsung melalui jarum speedometer sebagai pemberi informasi (Sutalaksana, 1979).
Display dapat menyajikan informasi-informasi yang diperlukan manusia dalam melaksanakan pekerjaannya maka display harus dirancang dengan baik. Perancangan display yang baik adalah bila display tersebut dapat menyampaikan informasi selengkap mungkin tanpa menimbulkan banyak kesalahan dari manusia yang menerimanya.
Sedangkan menurut Sutalaksana (1979), display yang baik harus dapat menyampaikan pesan tertentu sesuai dengan tulisan atau gambar yang dimaksud dalam display atau  sejenis poster. Ciri-ciri display dan poster yang baik adalah:
1.      Dapat menyampaikan pesan.
2.      Bentuk atau gambar menarik dan menggambarkan kejadian.
3.      Menggunakan warna-warna mencolok dan menarik perhatian.
4.      Proporsi gambar dan hururuf memungkinkan untuk dapat dilihat/dibaca.
5.      Menggunakan kalimat-kalimat pendek, lugas, dan jelas.
6.      Menggunakan huruf yang baik sehingga mudah dibaca.
7.      Realistis sesuai dengan permasalahan.
8.      Tidak membosankan.
Berdasarkan tujuannya, secara garis besar poster terdiri atas dua bagian,yaitu poster untuk tujuan umum dan poster untuk tujuan khusus. Poster umum, diantaranya mengenai aturan keselamatan kerja umum, poster tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan, poster mengenai kesalahan-kesalahan manusia dalam bekerja. Sedangkan poster untuk tujuan khusus diantaranya, poster-poster dalam industri, pekerjaan konstruksi. Dengan demikian pesan-pesan yang dikandung bersifat spesifik untuk lingkungan yang bersangkutran. Misalnya poster untuk bahaya penggunaan lift, tangga, penyimpanan benda-benda mudah terbakar atau mudah meledak (Sutalaksana, 1979).
Ukuran poster bervariasi mulai dari stiker yang berukuran kecil sampai yang berukuran besar. Tetapi umumnya berukuran sebesar kalender. Poster berukuran kecil biasanya dalam bentuk stiker yang mudah ditempel dimana-mana, misalnya “Dilarang Menumpang” dapat ditempel di bagian forklift dan buldoser.
Display yang berbentuk rambu-rambu berbahaya, biasanya dipasang pada dinding, pintu masuk atau pada tiang-tiang. Display ini berbentuk seperti rambu-rambu lalu lintas (berbentuk bulat, segitiga, segiempat atau belah ketupat) (Sutalaksana, 1979).
Peran ergonomi sangat penting dalam membuat rancangan display dan poster yang memiliki daya sambung yang tinggi dengan pembaca. Display dan poster harus mampu memberikan informasi yang jelas. Konsep ”Human Centered Design” sangat kuat dalam pembuatan display dan poster karena terkait dengan sifat-sifat manusia sebagai “penglihat dan pemaham isyarat” (Sutalaksana, 1979).

2.2       Tipe-Tipe Display
Sehubungan dengan lingkungan, display  terbagi dalam dua macam yaitu: display statis dan display dinamis. Display dinamis adalah display yang menggambarkan perubahan menurut waktu, contohnya mikroskop dan speedometer. Display statis memberikan informasi yang tidak tergantung terhadap waktu, misalnya informasi yang menggambarkan suatu kota (Sutalaksana, 1979).
Menurut Galer (1989), display dan informasi yang disampaikan terbagi atas tiga tipe. Berikut adalah tiga tipe dari display:
1.      Display kualitatif.
2.      Display kuantitatif.
3.      Display representatif.
Jenis display kualitatif merupakan penyederhanaan dari informasi yang semula berbentuk data numerik. Contoh display kualitatif misalnya informasi atau tanda ON, OFF pada generator, DINGIN, NORMAL, PANAS  pada pembacaan temperatur, BELL dan BUZZER untuk menunjukkan informasi kehadiran, lampu kelap-kelip dan sirine sebagai tanda peringatan (Warning devices). Jenis display kuantitatif memperlihatkan informasi numerik dan biasanya disajikan dalam bentuk Digital ataupun analog untuk suatu visual display. Untuk display Representatif, biasanya berupa sebuah “working model” atau “mimic diagram” dari suatu mesin. Salah satu contohnya adalah diagram sinyal lintasan kereta api (Galer, 1989).
Tipe display berdasarkan panca indera yang menerimanya yaitu visual display, auditory display, tactual display, taste display, dan olfactory display. Visual display (dilihat) adalah display yang dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan yaitu mata. Auditory display (didengar) adalah display yang dapat didengar dengan menggunakan indera pendengaran yaitu telinga. Tactual display (diraba) adalah display yang dapat disentuh dengan menggunakan indera peraba yaitu kulit. Taste display (dikecap) adalah display yang dapat dirasakan dengan menggunakan indera pengecap yaitu lidah. Olfactory display (dihidu) adalah display yang dapat dicium dengan menggunakan indera penciuman yaitu hidung (ainul.staff.gunadarma.ac.id, 25 Mei 2014).
                              
2.3              Warna pada Visual Display
Informasi dapat juga diberikan dalam bentuk kode warna. Indera mata sangat sensitif terhadap warna BIRU-HIJAU-KUNING, tetapi sangat tergantung juga pada kondisi terang dan gelap. Dalam visual display sebaiknya tidak menggunakan lebih dari 5 warna. Hal ini berkaitan dengan adanya beberapa kelompok orang yang memiliki gangguan penglihatan atau mengalami  kekurangan dan keterbatasan penglihatan pada matanya. Warna merah dan hijau sebaiknya tidak digunakan bersamaan begitu pula warna kuning dan biru (Galer, 1989). Sedangkan menurut Bridger,R.S (1995) terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dalam penggunaan warna pada pembuatan display. Berikut merupakan tabel 2.1 kelebihan dan kekurangan warna pada visual display:
Tabel 2.1 Kelebihan dan Kekurangan Warna pada Visual Display
Kelebihan
Kekurangan
Tanda untuk data spesifik
Tidak bermanfaat bagi buta warna
Informasi lebih mudah diterima
Menyebabkan fatigue
Mengurangi tingkat kesalahan
Membingungkan
Lebih natural
Menimbulkan reaksi
Member dimensi lain
Informal

2.4       Prinsip-Prinsip  Mendesain Visual Display
Menurut Bridger,R.S (1995) ada 4 (empat) prinsip dalam mendesain suatu visual display yaitu prinsip proximity, prinsip similarity, prinsip symmetry, dan prinsip continuity. Berikut ini merupakan penjelasan dari empat prinsip dalam mendesain suatu visual display :
1.      Prinsip PROXIMITY, jarak terhadap susunan display yang disusun secara bersama-sama dan saling memiliki dapat membuat suatu perkiraan atau pernyataan. Artinya display yang dibuat dapat dimengerti tanpa harus melihat dengan jelas, namun dapat mengerti apa yang dimaksud, misalnya bunyi sirine ambulance, perlintasan kereta api, dan lain-lain.
2.      Prinsip SIMILARITY, menyatakan bahwa item-item yang sama akan dikelompokkan bersama-sama (dalam konsep warna, bentuk dan ukuran) bahwa pada sebuah display tidak boleh  menggunakan lebih dari 3 warna.
3.      Prinsip SYMMETRY, menjelaskan perancangan untuk memaksimalkan display, artinya elemen-elemen dalam perancangan display akan lebih baik dalam bentuk simetrikal, yaitu antara tulisan dan gambar harus seimbang.
4.      Prinsip CONTINUITY, menjelaskan sistem perseptual mengekstrakan informasi kualitatif menjadi satu kesatuan yang utuh. Hubungan satu display dengan yang lain saling berkelanjutan membentuk satu kesatuan. Selain itu prinsip continuity (kesinambungan pola) juga mengekstrakan informasi yang bersifat kualitatif sehingga menjadi suatu kesatuan yang utuh.

2.5       Kriteria dalam Pembuatan Display
            Kriteria dalam pembuatan display dibagi menjadi 3 yaitu, pendeteksian, pengenalan, dan pemahaman. Pendeteksian adalah kemampuan dasar dari display untuk dapat diketahui keberadaannya atau fungsinya. Pada visual display harus dapat dibaca dan untuk auditory display harus bisa didengar. Pengenalan adalah setelah display dideteksi, pesan dari display tersebut harus bisa dibaca atau didengar. Pemahaman adalah pembuatan display tidak cukup hanya memenuhi 2 kriteria diatas, display yang baik harus dapat dipahami dengan sebaik mungkin sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh display tersebut. Menurut Barrier pemahaman terhadap display dibagi menjadi 2 level yaitu (ainul.staff.gunadarma.ac.id, 25 Mei 2014).
1.      Kata-kata atau simbol yang digunakan dalam display mungkin terlalu sulit untuk dipahami oleh pengguna atau pekerja, contohnya “VELOCITY” dan “COOLANT mungkin kurang bisa dipahami daripada “SPEED” dan “WATER”.
2.      Pemahaman mungkin menjadi lebih sulit apabila pengguna memiliki kesulitan dalam memahami kata-kata dasar.
Informasi-informasi yang dibutuhkan sebelum display dibuat adalah tipe teknologi yang digunakan untuk menampilkan informasi. Rentang total dari variabel mengenai informasi mana yang akan ditampilkan. Ketetapan dan sensitivitas maksimal yang dibutuhkan dalam pengiriman informasi. Kecepatan yang dibutuhkan dalam pengiriman informasi. Minimasi kesalahan dalam pembacaan display. Jarak normal dan maksimal antara display dan pengguna display. Lingkungan dimana display tersebut diperlukan (ainul.staff.gunadarma.ac.id, 25 Mei 2014).
Indikator-indikator dari display dibagi menjadi dua. Pertama, digital display, memiliki tingkat pembacaan yang lebih presisi dan cara pembacaan yang lebih cepat dibandingkan dengan analog. Kedua, analog display memiliki cara pembacaan yang lebih sulit karena pembaca harus menduga posisi dari jarum skala/pointer, hasil pembacaan kurang akurat atau presisi (ainul.staff.gunadarma.ac.id, 25 Mei 2014).
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan display. Pertama, perancang harus memahami terlebih dahulu 3 kriteria dasar dalam pembuatan display. Kedua, harus memahami informasi yang dibutuhkan dalam pembuatan display. Ketiga, mengklasifikasikan display berdasarkan tipe-tipe display yang ada. Keempat, mendesain sebuah display berdasarkan prinsip-prinsip pembuatan display yang ada. Kelima, memahami benar arti serta penggunaan warna pada sebuah display. Display yang dibuat harus informatif. Pesan pada display harus sampai pada pengguna denngan baik. Memperhatikan proporsi gambar dan huruf. Display harus singkat, padat, jelas dan tepat. Perhatikan penggunaan skala (ainul.staff.gunadarma.ac.id, 25 Mei 2014).
Ada juga yang membedakannya menjadi dua jenis, pertama pictoral display informasi berupa gambar, tulisan, peta, TV dan lain-lain. Kedua, symbolic display informasinya berupa simbol-simbol (ainul.staff.gunadarma.ac.id, 25 Mei 2014).

2.6       Perhitungan dalam Membuat Display
Rumus yang diperlukan untuk menghitung ukuran-ukuran dalam membuat display antara lain tinggi, lebar, tebal, jarak antar huruf, dan beberapa ukuran spesifik lainnya. Berikut ini adalah rumus-rumus yang biasa diperlukan dalam perancangan suatu display (apk.lab.uii.ac.id, 25 Mei 2014):


Berger dalam Sutalaksana (1979) pernah menyelidiki, berapa jauh orang dapat melihat huruf berdasarkan  perbandingan antara tabel dan tinggi huruf yang berbeda-beda.  Hasil penelitian menyimpulkan bahwa untuk huruf yang berwarna putih dengan dasar hitam perbandingan 1:13,3 merupakan yang paling baik, dalam arti kata dapat dilihat dari tempat yang paling jauh terhadap yang lainnya yaitu dari jarak 36,5 meter.  Sedangkan untuk huruf yang berwarna hitam dengan dasar putih, perbandingan 1:8 merupakan perbandingan terbaik, yaitu dapat dilihat dari jarak 33,5 meter.
Read more...

ANTROPOMETRI

0 komentar
2.1       Pengertian Anthropometri
Informasi hasil penelitian ergonomi dapat dikelompokan ke dalam lima bidang penelitian jika dilihat dari sisi rekayasa yaitu (Sutalaksana, 2007) :
1.      Anthropometri
2.      Biomekanika
3.      Fisiologi
4.      Pengindraan
5.      Lingkungan Fisik Kerja
Antropometri adalah suatu studi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan ergonomis dalam proses perencanaan (design) produk maupun sistem kerja yang memerlukan interaksi manusia. Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal (Sutalaksana, 2007):
1.      Perancangan areal kerja
2.      Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan sebagainya.
3.      Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian , kursi, meja, komputer dan lain-lain.
4.      Perancangan lingkungan kerja fisik.
Antropometri dibagi dalam dua bagian yaitu antropometri statis dan dinamis. Antropometri statis yaitu pengukurannya dilakukan pada saat tubuh dalam keadaan diam atau posisi diam atau tidak bergerak. Antropometri dinamis yaitu dimensi tubuh diukur dalam berbagai posisi tubuh yang sedang bergerak (Sutalaksana, 2007).
Dimensi yang diukur pada antropometri statis diambil secara linear (lurus) dan dilakukan pada permukaan tubuh. Agar hasilnya dapat representatif , maka pengukuran harus dilakukan dengan metode tertentu terhadap individu. Faktor-faktor yang mempengaruhi dimensi tubuh manusia diantaranya (Sutalaksana, 2007):
1.      Umur
Seperti diketahui bersama bahwa manusia tumbuh sejak lahir hingga kira-kira berumur 20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Pada saat tersebut ukuran tubuh manusia tetap dan cenderung untuk menyusut setelah kurang lebih berumur 60 tahun.
2.      Jenis Kelamin
Jenis kelamin manusia yang bebeda akan mengakibatkan dimensi anggota tubuhnya berbeda. Perbedaan dimensi tubuh ini dikarenakan fungsi yang berbeda.
3.      Suku bangsa
Suku bangsa juga memberikan ciri khas mengenai dimensi tubuhnya. Ekstrimnya orang eropa merupakan etnis kaukasoid berbeda dengan orang indonesia yang merupakan etnis mongoloid. Kecenderungan dimensi tubuh manusia yang termasuk etnis kaukasoid lebih panjang bila dibandingkan dengan dimensi tubuh manusia yang termasuk etnis mongoloid.
4.      Jenis pekerjaan atau latihan
Suatu sifat dasar otot manusia, dimana bila otot tersebut sering dipekerjakan akan mengakibatkan otot tersebut bertambah lebuh besar. Misalnya dimensi seorang buruh pabrik, dimensi seorang binaragawan dan sebagainya.
Mengukur antropometri dinamis, terdapat tiga kelas pengukuran, yaitu pertama, pengukuran tingkat keterampilan sebagai pendekatan untuk mengerti kedaaan mekanis dari suatu aktivitas, contohnya mempelajari performasi seseorang. Kedua, pengukuran jangkauan ruang yang dibutuhkan saat bekerja dan  ketiga, pengukuran variabilitas kerja (Sutalaksana, 2007).

2.2       Perancangan Produk atau Alat
            Perancangan adalah suatu proses yang bertujuan untuk menganalisis, menilai memperbaiki dan menyusun suatu sistem, baik sistem fisik maupun non fisik yang optimum untuk waktu yang akan datang dengan memanfaatkan informasi yang ada (Kristyanto, 1999).
            Perancangan suatu alat termasuk dalam metode teknik, dengan demikian langkah-langkah pembuatan perancangan akan mengikuti metode teknik. Merris Asimov menerangkan bahwa perancangan teknik adalah suatu aktivitas dengan maksud tertentu menuju kearah tujuan dari pemenuhan kebutuhan manusia, terutama yang dapat diterima oleh faktor teknologi peradaban kita. Dari definisi tersebut terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam perancangan yaitu (Kristyanto, 1999):
1.      Aktivitas dengan maksud tertentu.
2.      Sasaran pada pemenuhan kebutuhan manusia.
3.      Berdasarkan pada pertimbangan teknologi.
            Dalam membuat suatu perancangan produk atau alat, perlu mengetahui karakteristik perancangan dan perancangnya. Beberapa karakteristik perancangan adalah sebagai berikut (Kristyanto, 1999):
1.      Berorientasi pada tujuan.
2.      Variform
Suatu anggapan bahwa terdapat sekumpulan solusi yang mungkin terbatas, tetapi harus dapat memilih salah satu ide yang diambil.
3.      Pembatas
Dimana pembatas ini membatasi jumlah solusi pemecahan diantaranya :
a.       Hukum alam seperti ilmu fisika, ilmu kimia dan seterusnya.
b.      Ekonomis ; pembiayaan atau ongkos dalam meralisir rancangan yang telah dibuat
c.       Perimbangan manusia ; sifat, keterbatasan dan kemampuan manusia dalam merancang dan memakainya.
d.      Faktor-faktor legalisasi; mulai dari model, bentuk sampai hak cipta.
e.       Fasilitas produksi: sarana dan prasarana yang dibtuhkan untuk menciptakan rancangan yang telah dibuat.
f.       Evolutif; berkembang terus atau mampu mengikuti perkembangan jaman.
g.      Perbandingan nilai: membandingkan dengan tatanan nilai yang telah ada.
Karakteristik perancang merupakan karakteristik yang harus dipunyai oleh seorang perancang. Karakteristiknya antara lain (Kristyanto, 1999):
1.      Mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasikan masalah.
2.      Memiliki Imajinasi untuk meramalkan masalah yang mungkin akan timbul.
3.      Berdaya cipta.
4.      Mempunyai kemampuan untuk menyederhanakan persoalan.
5.      Mempunyai keahlian dalam bidang Matematika, Fisika atau Kimia tergantung dari jenis rancangan yang dibuat.
6.      Dapat mengambil keputusan terbaik berdasarkan analisa dan prosedur yang benar.
7.      Mempunyai sifat yang terbuka (open minded) terhadap kritik dan saran dari orang lain.
Proses perancangan yang merupakan tahapan umum teknik perancangan dikenal dengan sebutan NIDA, yang merupakan kepanjangan dari Need, Idea, Decision dan Action. Artinya tahap pertama seorang perancang menetapkan dan mengidentifikasi kebutuhan (need). Sehubungan dengan alat atau produk yang harus dirancang. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan ide-ide (idea) yang akan melahirkan berbagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan tadi dilakukan suatu penilaian dan penganalisaan terhadap berbagai alternatif yang ada, sehingga perancang akan dapat memutuskan (decision)  suatu alternatif yang terbaik. Dan pada akhirnya dilakukan suatu proses pembuatan (Action). Perancangan suatu peralatan kerja dengan berdasarkan data antropometri pemakainya betujuan untuk mengurangi tingkat kelelahan kerja, meningkatkan performansi kerja dan meminimasi potensi kecelakaan kerja (Pulat, 1997).
Tahapan perancangan sistem kerja menyangkut work space design dengan memperhatikan faktor antropometri secara umum. Berikut adalah tahapannya (Roebuck, 1995):
1.      Menentukan kebutuhan perancangan dan kebutuhannnya (establish requirement).
2.      Mendefinisikan dan mendeskripsikan populasi pemakai.
3.      Pemilihan sampel yang akan diambil datanya.
4.      Penentuan kebutuhan data (dimensi tubuh yang akan diambil).
5.      Penentuan sumber data (dimensi tubuh yang akan diambil) dan pemilihan persentil yang akan dipakai.
6.      Penyiapan alat ukur yang akan dipakai.
7.      Pengambilan data.
8.      Pengolahan data
9.      Visualisasi rancangan.
Hasil rancangan yang dibuat dituntut dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi si pemakai. Oleh karena itu rancangan yang akan dibuat harus memperhatikan faktor manusia sebagai pemakainya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat suatu rancangan selain faktor manusia antara lain (Pulat, 1997):
1.      Analisa Teknik
Banyak berhubungan dengan ketahanan, kekuatan, kekerasan dan seterusnya.
2.      Analisa Ekonomi
Berhubungan perbandingan biaya yang harus dikeluarkan dan manfaat yang akan diperoleh.
3.      Analisa Legalisasi
Berhubungan dengan segi hukum atau tatanan hokum yang berlaku dan dari hak cipta.
4.      Analisa Pemasaran
Berhubungan dengan jalur distribusi produk atau hasil rancangan sehingga dapat sampai kepada konsumen.
5.      Analisa Nilai
Analisa nilai, yaitu suatu prosedur untuk mengidentifikasikan ongkos-ongkos yang tidak ada gunanya. Kemudian pengertian ini berkembang sesuai dengan perkembangan tuntutan jaman. Seperti yang dikemukakan oleh C.M. Walsh yang membagi analisa nilai menjadi 4 katagori, yaitu pertama, uses value, berhubungan dengan nilai kegunaan. Kedua, esteem value berhubungan dengan nilai keindahan atau estetika. Ketiga, cost value berhubungan dengan pembiayaan. Keempat, excange value berhubungan dengan kemampuan tukar.
2.3       Distribusi Normal Dalam Penetapan Data Antropometri
Data antropometri jelas diperlukan supaya rancangan suatu produk bisa sesuai dengan orang yang akan mengoperasikannya. Permasalahan yang akan timbul adalah ukuran-ukuran siapakah yang nantinya akan dipilh sebagai acuan untuk mewakili populasi yang ada. Mengingat ukuran individu yang berbeda-beda satu dengan populasi yang menjadi target sasaran produk tesebut. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya problem adanya variasi ukuran sebenarnya akan lebih mudah diatasi bilamana kita mampu merancang produk yang memiliki fleksibilitas dan sifat “mampu sesuai” (adjustable) dengan suatu rentang ukuran tertentu (elib.unikom.ac.id, 25 Mei 2014).

Gambar 2.1. Distribusi Normal dengan Data Antropometri 95-th Percentile
Penetapan data antropometri ini, pemakaian distribusi normal akan umum diterapkan. Dalam statistik, distribusi normal dapat formulasikan berdasarkan harga rata–rata (mean, ) dan simpangan standarnya (standar deviation, sX) dari data yang ada. Dari nilai yang ada maka “percentiles” dapat ditetapkan sesuai dengan tabel probabilitas distribusi normal. Dengan percentile, maka yang dimaksud disini adalah suatu nilai yang menunjukan persentase tertentu dari orang yang memiliki ukuran pada atau dibawah nilai tersebut. Sebagai contoh 95-th percentile akan menunjukan 95% populasi akan berada pada atau dibawah ukuran tersebut; sedangkan 5-th percentile akan menunjukan 5% populasi akan berada pada atau  dibawah ukuran itu. Dalam antropometri ukuran 95-th akan menggambarkan ukuran manusia yang “terbesar” dan 5-th percentile sebaliknya akan menunjukan ukuran “terkecil”. Pemakaian nilai–nilai percentile yang umum diaplikasikan dalam perhitungan data antopometri dapat dijelaskan dalam tabel sebagai berikut (elib.unikom.ac.id, 25 Mei 2014):
Tabel 2.1 Rumus Percentile
Percentile
Perhitungan
1-st
- 2.325 sX
2.5-th
- 1.96 sX
5-th
- 1.645 sX
10-th
- 1.28 sX
50-th
(rata-rata)
90-th
+ 1.28 sX
95-th
+ 1.645 sX
97.5-th
+ 1.96 sX
99-th
+ 2.325 sX
Perhitungan secara manual yang dilakukan menggunakan rumus-rumus tertentu. Perhitungan yang dilakukan yaitu menentukan nilai mean atau rata-rata dari dimensi tubuh yang digunakan, standar deviasi dari dimensi tubuh tersebut dan nilai persentil yang digunakan. Berikut merupakan rumus yang digunakan dalam pengolahan data secara manual (elib.unikom.ac.id, 25 Mei 2014):
1.      Mean:

Dimana:
 X    : Rata-rata data.
∑X  : Jumlah nilai data.
n      : Jumlah data.
2.      Standar deviasi

Dimana;
SD : Standar deviasi.
Xi  : Data ke-i.
  : Rata-rata data.
n    : jumlah data.

2.4       Data Antropometri Dalam Perancangan Produk
Data antropometri yang menyajikan data ukuran dari berbagai macam anggota tubuh manusia dalam percentiler tertentu akan sangat besar manfaatnya pada saan perancangan produk ataupun fasilitaas kerja akan dibuat. Agar rancangan suatu produk nantinya bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan mengoperasikannya, maka prinsip-prinsip apa yang harus diambil di dalam aplikasi data antropometri tersebut harus ditetapkan terlebih dahulu seperti diuraikan berikut ini (elib.unikom.ac.id, 25 Mei 2014):
1.      Prinsip Perancangan produk bagi individu dengan ukuran yang ekstrim
Disini rancangan produk dibuat agar bisa memenuhi dua sasaran produk, yaitu (elib.unikom.ac.id, 25 Mei 2014):
a.       Bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi ekstrim dalam arti terlalu besar atau kecil bila dibandingkan dengan rata–ratanya.
b.      Tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain (mayoritas dari populasi yang ada).
c.       Untuk dimensi minimum yang harus ditetapkan dari suatu rancangan produk umumnya didasarkan pada nilai percentile yang terbesar seperti 95-th percentile.
d.      Untuk dimensi maksimum yang harus ditetapkan diambil berdasarkan nilai percentile yang paling rendah (5-th) dari distribusi data antropometri yang ada.
Secara umum aplikasi data antropometri untuk perancangan produk ataupun fasilitas kerja akan menetapkan nilai 5-th percentile untuk dimensi maksimum dan 95-th untuk dimensi minimumnya (elib.unikom.ac.id, 25 Mei 2014).
2.      Prinsip perancangan produk yang bisa dioperasikan diantara rentang ukuran tertentu.
Disini rancangan bisa dirubah–rubah ukurannya sehingga cukup fleksibel dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh. Dalam kaitannya untuk mendapatkan rancangan yang fleksibel, semacam ini maka data antropometri yang umum diaplikasikan adalah dalam rentang nilai 5-th s/d 95-th percentile (elib.unikom.ac.id, 25 Mei 2014).
3.      Prinsip perancangan produk dengan ukuran rata-rata
Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata–rata ukuran manusia. Problem pokok yang dihadapi dalam hal ini justru sedikit sekali mereka yang berbeda dalam ukuran rata–rata. Berkaitan dengan aplikasi data antropometri yang diperlukan dalam proses perancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka ada beberapa rekomendasi yang bisa diberikan sesuai dengan langkah–langkah sebagai berikut (elib.unikom.ac.id, 25 Mei 2014):
a.       Pertama kali terlebih dahulu harus ditetapkan anggota tubuh yang mana nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut.
b.      Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam perancangan tersebut.
c.       Tentuka populasi terbesar yang harus di antisipasi, diakomodasikan dan menjadi target utama pemakai rancangan produk tersebut.
d.      Tetapkan prinsip ukuran yang harus diikuti semisal apakah rancangan tersebut untuk individual yang ekstrim, rentang ukuran yang fleksibel, ataukah ukuran rata–rata.
e.       Pilihlah persentase populasi yang harus diikuti ; 5%, 50% 95%.

Dimensi tubuh yang telah diidentifikasikan selanjutnya tetapkan nilai ukurannya dari tabel data antropometri yang sesuai (elib.unikom.ac.id, 25 Mei 2014).
Read more...
 
rian aditya putra © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here