selamat datang di blog "rian aditya putra".. blog ini saya buat untuk berbagi informasi dan sekumpulan tugas softskill, jika ada kesalahan kata atau ada kata-kata yang menyinggung para pembaca, saya selaku admin meminta maaf.. terima kasih..
Minggu, 09 November 2014

HIPOTESIS DAN RANCANGAN PENELITIAN

0 komentar
TUGAS SOFTSKILL
METODE PENELITIAN
(HIPOTESIS)




Disusun Oleh:
  
Nama/NPM
: Rian Aditya Putra/36412252
Kelas
Dosen
: 3ID08
: Ina Siti Hasanah

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2014



HIPOTESIS


            A.                Merumuskan Hipotesis
Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini berkaitan dengan ada tidaknya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Kemudian menguji apakah variabel pemoderasi mempengaruhi hubungan antara variabel dependen dan variabel independen.
Hipotesis Parsial
·         Ho1 β=  0
Tidak terdapat pengaruh  sistem kontrol akuntansi terhadap kinerja perusahaan
·         Ha1 :  β= 0
Terdapat pengaruh  sistem kontrol akuntansi terhadap kinerja perusahaan.
Hipotesis Simultan
·         Ho2 :  β3 sama dengan 0
Tidak terdapat pengaruh  yang signifikan dari sistem kontrol akuntansi terhadap kinerja perusahaan dengan dinamika lingkungan sebagai variabel moderasi.
·         Ha2 :  β3 tidak sama dengan 0
Terdapat pengaruh yang signifikan dari sistem kontrol akuntansi terhadap kinerja perusahaan dengan dinamika lingkungan sebagai variabel moderasi.

            B.                 Rancangan Hipotesis
Rancangan pengujian hipotesis ini dimulai dengan penetapan hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha), pemilihan uji statistik dan perhitungan nilai uji statistik, perhitungan uji statistik, penetapan tingkat signifikansi dan penarikan kesimpulan.
Hipotesis nol (H01) yang ditetapkan menunjukkan tidak adanya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Sedangkan hipotesis alternatif (Ha1) menunjukkan adanya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Kemudian untuk menguji pengaruh variabel moderasi maka dibentuk hipotesis nol (H02) yang menunjukkan tidak terdapat pengaruh signifikan variabel independen terhadap variabel dependen dengan adanya variabel moderasi. Sedangkan hipotesis alternatifnya (Ha2) yang menunjukkan terdapat pengaruh signifikan variabel independen terhadap variabel dependen dengan adanya variabel moderasi.

            C.                Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian merupakan rencana menyeluruh dari penelitian mencakup hal-hal yang akan dilakukan peneliti mulai dari membuat hipotesis dan implikasinya secara operasional sampai pada analisis akhir data yang selanjutnya disimpulkan dan diberikan saran. Suatu desain penelitian menyatakan struktur masalah penelitian maupun rencana penyelidikan yang akan dipakai untuk memperoleh bukti empiris mengenai hubungan-hubungan dalam masalah.
Berdasarkan hipotesis dalam rancangan penelitian ini ditentukan variabelvariabel yang dipergunakan dalam penelitian. Ada 3 (tiga) variabel yaitu karakteristik informasi sistem akuntansi manajemen, desentralisasi, dan kinerja manajerial. Selanjutnya menentukan instrumen berdasarkan variabel penelitian dan kemudian menentukan responden. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi dan kuisioner. Teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data adalah analisis regresi berganda. Sebelum dilakukan analisis regresi terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang terdiri dari multikolinearitas, heterokedastisitas, dan normalitas data. Hasil analisis kemudian diinterpretasikan dan langkah terakhir disimpulkan serta diberikan saran.







DAFTAR PUSTAKA




Read more...
Jumat, 24 Oktober 2014

BAB I METODE PENELITIAN

0 komentar
TUGAS SOFTSKILL
(METODE PENELITIAN)


Disusun Oleh:

Nama/NPM
: Rian Aditya Putra/36412252
Kelas
Dosen
: 3ID08
: Ina Siti Hasanah

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
BEKASI
2014



BAB I
PENDAHULUAN


1.1     Latar Belakang
          Setiap manusia pasti tidak terlepas dari interaksi antar manusia maupun dengan lingkungannya, dimana dalam melakukan interaksi tersebut bertujuan untuk mendapatkan segala jenis informasi. Interaksi antar sesama manusia adalah hal yang biasa dan mudah untuk dilakukan. Hal ini berbeda jika manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan manusia meliputi rumah, sekolah, kampus, kantor, jalan raya, dan lain-lain. Manusia tidak dapat secara langsung berinteraksi dengan lingkungannya, karena lingkungan tidak dapat menyampaikan informasi yang ada, sehingga dapat menyebabkan kebingungan. Sebab dari permasalahan itu dibutuhkanlah alat bantu yang dapat digunakan manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya yaitu display.
    Display yang telah beredar terkadang memiliki ketidakseimbangan dalam menyampaikan informasi, yaitu berupa faktor kesan dan fungsional, sehingga akan menyebabkan kesalahan dalam memahami display tersebut, keterlambatan dalam menginterpretasikan data mengakibatkan berbagai resiko dan kecelakaan kerja yang akan terjadi. Akibat permasalahan tersebut, maka untuk meminimalisirnya dilakukan perancangan alat peraga yang sesuai dengan prinsip dan disiplin ilmu ergonomi. Display adalah alat peraga yang digunakan untuk media penyampaian informasi dari lingkungan kepada manusia. Display yang baik adalah display yang dapat dimengerti dan dipahami oleh manusia sebagai penerima informasi melalui panca indera (Sutalaksana, 1979).
        Penerapan display dalam penelitian ini adalah perancangan dan pembuatan acrylic display untuk memerintahkan agar operator selalu menggunakan ear-plug pada area yang telah ditentukan. Papan display ini terdapat beberapa kesalahan sehingga mengakibatkan operator tidak tertarik membacanya. Kesalahan tersebut terdapat pada kombinasi warna yang tidak mencolok sehingga operator tidak tertarik untuk membancanya. Dimensi huruf dan jarak antar kata yang tidak sesuai dengan prinsip dan penerapan ilmu ergonomi. Display seharusnya sesuai dengan prinsip dan penerapan ilmu ergonomi sehingga dapat menyampaikan informasi secara jelas dan tepat. Harapannya operator dapat mengetahui acrylic display tersebut bahwa pada area tersebut mewajibkan operator untuk menggunakan ear-plug.

1.2       Perumusan Masalah
         Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang acrylic display yang baik dan mudah dimengerti oleh manusia sehingga dapat memperoleh informasi yang jelas dari display tersebut. Display yang dimaksud adalah berbentuk papan peringatan.

1.3       Pembatasan Penelitian
            Pembuatan penelitian ini memiliki batasan-batasan masalah agar penulisan tidak menyimpang dari persoalan yang ada. Berikut ini batasan masalah dari penelitian :
1.      Pengambilan data dilakukan di PT. Krama Yudha Ratu Motor Jln. Raya Bekasi Km. 21-22 Pulo Gadung, Jakarta Timur.
2.       Display yang dibuat hanya berupa acrylic display dan sebanyak 1 display.
3.     Ukuran acrylic display yang dirancang hanya berukuran sedang dengan bentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 914 mm dan lebar 314 mm.

1.4       Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman materi yang akan dibahas didalamnya. Berikut merupakan tujuan penelitian dalam merancang ulang sebuah papan display.
1.  Mengetahui tipe-tipe dari display yang dibuat, yaitu display kualitatif, display kuantitatif, display representatif.
2. Mengetahui prinsip-prinsip dari display yang dibuat, yaitu proximity, similarity, symetry, continuity.
3.  Mengetahui ukuran huruf dan warna huruf yang digunakan pada pembuatan display, yaitu tinggi huruf kecil, lebar huruf besar, lebar huruf kecil, tebal huruf besar, tebal hurf kecil, jarak antara dua huruf, jarak antara dua kata.


Read more...
Selasa, 01 Juli 2014

DISPLAY (Alat Peraga)

0 komentar
 2.1       Pengertian Display
Display  merupakan bagian dari lingkungan yang perlu memberi informasi kepada pekerja agar tugas-tugasnya menjadi lancar. Arti informasi disini cukup luas, menyangkut semua rangsangan yang diterima oleh indera manusia baik langsung maupun tidak langsung. Display berfungsi sebagai suatu “sistem komunikasi yang menghubungkan antara fasilitas kerja maupun mesin kepada manusia (Nurmianto, 1991).
Contoh dari display diantaranya adalah jarum penunjuk speedometer, keadaan jalan raya memberikan informasi langsung ke mata, peta yang menggambarkan keadaan suatu kota. Jalan raya merupakan contoh dari display langsung, karena kondisi lingkungan jalan bisa langsung diterima oleh pengemudi. Jarum penunjuk spedometer merupakan contoh display tak langsung karena kecepatan kendaraan diketahui secara tak langsung melalui jarum speedometer sebagai pemberi informasi (Sutalaksana, 1979).
Display dapat menyajikan informasi-informasi yang diperlukan manusia dalam melaksanakan pekerjaannya maka display harus dirancang dengan baik. Perancangan display yang baik adalah bila display tersebut dapat menyampaikan informasi selengkap mungkin tanpa menimbulkan banyak kesalahan dari manusia yang menerimanya.
Sedangkan menurut Sutalaksana (1979), display yang baik harus dapat menyampaikan pesan tertentu sesuai dengan tulisan atau gambar yang dimaksud dalam display atau  sejenis poster. Ciri-ciri display dan poster yang baik adalah:
1.      Dapat menyampaikan pesan.
2.      Bentuk atau gambar menarik dan menggambarkan kejadian.
3.      Menggunakan warna-warna mencolok dan menarik perhatian.
4.      Proporsi gambar dan hururuf memungkinkan untuk dapat dilihat/dibaca.
5.      Menggunakan kalimat-kalimat pendek, lugas, dan jelas.
6.      Menggunakan huruf yang baik sehingga mudah dibaca.
7.      Realistis sesuai dengan permasalahan.
8.      Tidak membosankan.
Berdasarkan tujuannya, secara garis besar poster terdiri atas dua bagian,yaitu poster untuk tujuan umum dan poster untuk tujuan khusus. Poster umum, diantaranya mengenai aturan keselamatan kerja umum, poster tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan, poster mengenai kesalahan-kesalahan manusia dalam bekerja. Sedangkan poster untuk tujuan khusus diantaranya, poster-poster dalam industri, pekerjaan konstruksi. Dengan demikian pesan-pesan yang dikandung bersifat spesifik untuk lingkungan yang bersangkutran. Misalnya poster untuk bahaya penggunaan lift, tangga, penyimpanan benda-benda mudah terbakar atau mudah meledak (Sutalaksana, 1979).
Ukuran poster bervariasi mulai dari stiker yang berukuran kecil sampai yang berukuran besar. Tetapi umumnya berukuran sebesar kalender. Poster berukuran kecil biasanya dalam bentuk stiker yang mudah ditempel dimana-mana, misalnya “Dilarang Menumpang” dapat ditempel di bagian forklift dan buldoser.
Display yang berbentuk rambu-rambu berbahaya, biasanya dipasang pada dinding, pintu masuk atau pada tiang-tiang. Display ini berbentuk seperti rambu-rambu lalu lintas (berbentuk bulat, segitiga, segiempat atau belah ketupat) (Sutalaksana, 1979).
Peran ergonomi sangat penting dalam membuat rancangan display dan poster yang memiliki daya sambung yang tinggi dengan pembaca. Display dan poster harus mampu memberikan informasi yang jelas. Konsep ”Human Centered Design” sangat kuat dalam pembuatan display dan poster karena terkait dengan sifat-sifat manusia sebagai “penglihat dan pemaham isyarat” (Sutalaksana, 1979).

2.2       Tipe-Tipe Display
Sehubungan dengan lingkungan, display  terbagi dalam dua macam yaitu: display statis dan display dinamis. Display dinamis adalah display yang menggambarkan perubahan menurut waktu, contohnya mikroskop dan speedometer. Display statis memberikan informasi yang tidak tergantung terhadap waktu, misalnya informasi yang menggambarkan suatu kota (Sutalaksana, 1979).
Menurut Galer (1989), display dan informasi yang disampaikan terbagi atas tiga tipe. Berikut adalah tiga tipe dari display:
1.      Display kualitatif.
2.      Display kuantitatif.
3.      Display representatif.
Jenis display kualitatif merupakan penyederhanaan dari informasi yang semula berbentuk data numerik. Contoh display kualitatif misalnya informasi atau tanda ON, OFF pada generator, DINGIN, NORMAL, PANAS  pada pembacaan temperatur, BELL dan BUZZER untuk menunjukkan informasi kehadiran, lampu kelap-kelip dan sirine sebagai tanda peringatan (Warning devices). Jenis display kuantitatif memperlihatkan informasi numerik dan biasanya disajikan dalam bentuk Digital ataupun analog untuk suatu visual display. Untuk display Representatif, biasanya berupa sebuah “working model” atau “mimic diagram” dari suatu mesin. Salah satu contohnya adalah diagram sinyal lintasan kereta api (Galer, 1989).
Tipe display berdasarkan panca indera yang menerimanya yaitu visual display, auditory display, tactual display, taste display, dan olfactory display. Visual display (dilihat) adalah display yang dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan yaitu mata. Auditory display (didengar) adalah display yang dapat didengar dengan menggunakan indera pendengaran yaitu telinga. Tactual display (diraba) adalah display yang dapat disentuh dengan menggunakan indera peraba yaitu kulit. Taste display (dikecap) adalah display yang dapat dirasakan dengan menggunakan indera pengecap yaitu lidah. Olfactory display (dihidu) adalah display yang dapat dicium dengan menggunakan indera penciuman yaitu hidung (ainul.staff.gunadarma.ac.id, 25 Mei 2014).
                              
2.3              Warna pada Visual Display
Informasi dapat juga diberikan dalam bentuk kode warna. Indera mata sangat sensitif terhadap warna BIRU-HIJAU-KUNING, tetapi sangat tergantung juga pada kondisi terang dan gelap. Dalam visual display sebaiknya tidak menggunakan lebih dari 5 warna. Hal ini berkaitan dengan adanya beberapa kelompok orang yang memiliki gangguan penglihatan atau mengalami  kekurangan dan keterbatasan penglihatan pada matanya. Warna merah dan hijau sebaiknya tidak digunakan bersamaan begitu pula warna kuning dan biru (Galer, 1989). Sedangkan menurut Bridger,R.S (1995) terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dalam penggunaan warna pada pembuatan display. Berikut merupakan tabel 2.1 kelebihan dan kekurangan warna pada visual display:
Tabel 2.1 Kelebihan dan Kekurangan Warna pada Visual Display
Kelebihan
Kekurangan
Tanda untuk data spesifik
Tidak bermanfaat bagi buta warna
Informasi lebih mudah diterima
Menyebabkan fatigue
Mengurangi tingkat kesalahan
Membingungkan
Lebih natural
Menimbulkan reaksi
Member dimensi lain
Informal

2.4       Prinsip-Prinsip  Mendesain Visual Display
Menurut Bridger,R.S (1995) ada 4 (empat) prinsip dalam mendesain suatu visual display yaitu prinsip proximity, prinsip similarity, prinsip symmetry, dan prinsip continuity. Berikut ini merupakan penjelasan dari empat prinsip dalam mendesain suatu visual display :
1.      Prinsip PROXIMITY, jarak terhadap susunan display yang disusun secara bersama-sama dan saling memiliki dapat membuat suatu perkiraan atau pernyataan. Artinya display yang dibuat dapat dimengerti tanpa harus melihat dengan jelas, namun dapat mengerti apa yang dimaksud, misalnya bunyi sirine ambulance, perlintasan kereta api, dan lain-lain.
2.      Prinsip SIMILARITY, menyatakan bahwa item-item yang sama akan dikelompokkan bersama-sama (dalam konsep warna, bentuk dan ukuran) bahwa pada sebuah display tidak boleh  menggunakan lebih dari 3 warna.
3.      Prinsip SYMMETRY, menjelaskan perancangan untuk memaksimalkan display, artinya elemen-elemen dalam perancangan display akan lebih baik dalam bentuk simetrikal, yaitu antara tulisan dan gambar harus seimbang.
4.      Prinsip CONTINUITY, menjelaskan sistem perseptual mengekstrakan informasi kualitatif menjadi satu kesatuan yang utuh. Hubungan satu display dengan yang lain saling berkelanjutan membentuk satu kesatuan. Selain itu prinsip continuity (kesinambungan pola) juga mengekstrakan informasi yang bersifat kualitatif sehingga menjadi suatu kesatuan yang utuh.

2.5       Kriteria dalam Pembuatan Display
            Kriteria dalam pembuatan display dibagi menjadi 3 yaitu, pendeteksian, pengenalan, dan pemahaman. Pendeteksian adalah kemampuan dasar dari display untuk dapat diketahui keberadaannya atau fungsinya. Pada visual display harus dapat dibaca dan untuk auditory display harus bisa didengar. Pengenalan adalah setelah display dideteksi, pesan dari display tersebut harus bisa dibaca atau didengar. Pemahaman adalah pembuatan display tidak cukup hanya memenuhi 2 kriteria diatas, display yang baik harus dapat dipahami dengan sebaik mungkin sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh display tersebut. Menurut Barrier pemahaman terhadap display dibagi menjadi 2 level yaitu (ainul.staff.gunadarma.ac.id, 25 Mei 2014).
1.      Kata-kata atau simbol yang digunakan dalam display mungkin terlalu sulit untuk dipahami oleh pengguna atau pekerja, contohnya “VELOCITY” dan “COOLANT mungkin kurang bisa dipahami daripada “SPEED” dan “WATER”.
2.      Pemahaman mungkin menjadi lebih sulit apabila pengguna memiliki kesulitan dalam memahami kata-kata dasar.
Informasi-informasi yang dibutuhkan sebelum display dibuat adalah tipe teknologi yang digunakan untuk menampilkan informasi. Rentang total dari variabel mengenai informasi mana yang akan ditampilkan. Ketetapan dan sensitivitas maksimal yang dibutuhkan dalam pengiriman informasi. Kecepatan yang dibutuhkan dalam pengiriman informasi. Minimasi kesalahan dalam pembacaan display. Jarak normal dan maksimal antara display dan pengguna display. Lingkungan dimana display tersebut diperlukan (ainul.staff.gunadarma.ac.id, 25 Mei 2014).
Indikator-indikator dari display dibagi menjadi dua. Pertama, digital display, memiliki tingkat pembacaan yang lebih presisi dan cara pembacaan yang lebih cepat dibandingkan dengan analog. Kedua, analog display memiliki cara pembacaan yang lebih sulit karena pembaca harus menduga posisi dari jarum skala/pointer, hasil pembacaan kurang akurat atau presisi (ainul.staff.gunadarma.ac.id, 25 Mei 2014).
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan display. Pertama, perancang harus memahami terlebih dahulu 3 kriteria dasar dalam pembuatan display. Kedua, harus memahami informasi yang dibutuhkan dalam pembuatan display. Ketiga, mengklasifikasikan display berdasarkan tipe-tipe display yang ada. Keempat, mendesain sebuah display berdasarkan prinsip-prinsip pembuatan display yang ada. Kelima, memahami benar arti serta penggunaan warna pada sebuah display. Display yang dibuat harus informatif. Pesan pada display harus sampai pada pengguna denngan baik. Memperhatikan proporsi gambar dan huruf. Display harus singkat, padat, jelas dan tepat. Perhatikan penggunaan skala (ainul.staff.gunadarma.ac.id, 25 Mei 2014).
Ada juga yang membedakannya menjadi dua jenis, pertama pictoral display informasi berupa gambar, tulisan, peta, TV dan lain-lain. Kedua, symbolic display informasinya berupa simbol-simbol (ainul.staff.gunadarma.ac.id, 25 Mei 2014).

2.6       Perhitungan dalam Membuat Display
Rumus yang diperlukan untuk menghitung ukuran-ukuran dalam membuat display antara lain tinggi, lebar, tebal, jarak antar huruf, dan beberapa ukuran spesifik lainnya. Berikut ini adalah rumus-rumus yang biasa diperlukan dalam perancangan suatu display (apk.lab.uii.ac.id, 25 Mei 2014):


Berger dalam Sutalaksana (1979) pernah menyelidiki, berapa jauh orang dapat melihat huruf berdasarkan  perbandingan antara tabel dan tinggi huruf yang berbeda-beda.  Hasil penelitian menyimpulkan bahwa untuk huruf yang berwarna putih dengan dasar hitam perbandingan 1:13,3 merupakan yang paling baik, dalam arti kata dapat dilihat dari tempat yang paling jauh terhadap yang lainnya yaitu dari jarak 36,5 meter.  Sedangkan untuk huruf yang berwarna hitam dengan dasar putih, perbandingan 1:8 merupakan perbandingan terbaik, yaitu dapat dilihat dari jarak 33,5 meter.
Read more...
 
rian aditya putra © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here